Buku Voynich ,Salah Satu Buku Paling Misterius Di Dunia

Semasa beratus-ratus tahun, Manuskrip Voynich dipandang seperti buku paling mirakelus di dunia. Tidak seorang juga dapat pahami isi 240 halaman teks kabur yang dicatat dalam bahasa susah serta tidak diketahui, dibarengi dengan grafik serta contoh aneh.

Buku yang dicatat pada awal era ke-15 itu peluang dahulunya dipunyai oleh pakar kimia serta kaisar, sebelum tampil di masa kekinian pada awal era ke-20. Saat itu, penjual buku namanya Wilfrid Voynich memperolehnya di tahun 1912, serta tanpa ada menyengaja meminjamkan namanya pada buku mirakelus itu.

setidaknya telah seabad beberapa periset dibikin pusing oleh Manuskrip Voynich, satu manuskrip mirakelus berisi gambar serta tulisan yang maknanya sampai sekarang belum dapat dipecahkan. Belakangan ini beberapa periset Amerika sukses tentukan jika manuskrip itu dibikin pada era ke-15.

Proses penetapan usia manuskrip itu diawali tahun kemarin. Tetapi kejelasan masalah umur manuskrip baru dipublikasikan minggu ke-2 Februari kemarin. Manuskrip itu rupanya seratus tahun semakin tua dari perkiraaan sebelumnya, sekaligus juga mematahkan beberapa teori mengenai asal-mula manuskrip itu.

Nama manuskrip itu diambil dari nama penjual buku asal Polandia, Wilfrid Voynich, yang mendapatkan manuskrip itu pada 1912 di Villa Mondragone dekat Roma. Kesukaran buku dengan tebal 250 halaman itu membuat Da Vinci Kode tidak ada apa-apanya.

Buku itu dicatat tangan. Ada 250 ribu ciri-ciri asing didalamnya. Ciri-ciri-karakter itu diatur dalam kelompok-kelompok yang seperti kata serta kalimat; beberapa punyai keserupaan dengan huruf Latin serta angka Romawi, sesaat ciri-ciri yang lain tidak bisa diketemukan dalam bahasa mana saja di dunia.

Disamping itu, tulisan tangan yang memusingkan itu dikelilingi contoh-ilustrasi susah. Contohnya, tumbuhan yang tidak dapat dideteksi, lambang astrologi, aliran pipa yang ruwet, dan wanita telanjang yang sedang menari atau mandi dalam cairan hijau yang benar-benar aneh.

apa mereka organisme botanis? Atau organisme laut? Atau astrologi?

Memakai Tehnologi Hebat

Dengan memakai tehnologi hebat di laboratorium NSF-Arizona Accelerator Mass Spectrometry, Hodgins pecahkan minimal satu diantara beberapa puluh mirakel yang menyelebungi buku itu. Yaitu, tentukan waktu pengerjaan manuskrip.

Dia memakai tehnologi Carbon Dating serta memakai empat contoh memiliki ukuran seperenambelas inci yang diambil dari empat halaman tidak sama.

“Empat halaman itu menyengaja diambil dari empat sisi tidak sama untuk tentukan apa buku itu dicatat dalam periode waktu yang panjang,” tutur Hodgins pada Discovery News. Team Hodgins tentukan jika contoh itu dicatat di antara 1404 serta 1438 –jangka waktu yang terhitung singkat.

Baca Juga : 5 Buku Terlaris Sepanjang Sejarah

“Alam memihak pada kami. Selama era ke-15, level radio karbon beralih dengan sangat cepat, yang sangat mungkin kami mempersempit periode saatnya. Kadang level radio karbon atmosfir masih stabil semasa beberapa dasawarsa, serta semasa beberapa era. Serta dalam saat-saat itu, proses penanggalan radio karbon tidak sepas (yang kami kerjakan saat ini).”

Menurut beberapa periset, proses penetapan saat itu bisa dihandalkan sebab prosedurnya diulangi 4x dengan lembaran tidak sama.

Kesuksesan Hodgins Mematahkan Beberapa Tesis Mengenai Manuskrip Voynich.

Semenjak Wilfrid Voynich memberitahukan penemuannya, dengan keinginan pecahkan didalamnya, teori banyak muncul mengenai penulis serta isi buku itu. Banyak kriptografer karieronal atau amatir, termasuk juga pakar kode Perang Dunia I serta II, berupaya pecahkan mirakel isi manuskrip. Tidak satu juga sukses. Manuskrip itu masih jadi mirakel buat kriptografi.

pemilik buku itu adalah Raja Rudolf dari Dinasti Habsburg, Jerman, pada era ke-16, serta jika penulisnya ialah Roger Bacon, seorang pendeta Inggris yang periset pada era ke-13. Satu teori yang dipatahkan penemuan ini.

Pertaruhan yang lain, manuskrip ini ialah kitab rahasia dari satu sekte keagamaan, dokumen paling akhir dari satu bahasa yang telah musnah, code yang tidak bisa dipecahkan, sampai resep untuk “eliksir kehidupan“.

Tetapi ada pula pakar yang berasumsi jika manuskrip itu ialah satu gurauan konyol (hoax), yang peluang dibikin oleh seorang pakar matematika Inggris serta astrolog yang kerja untuk Raja Rudolf.

Pada 2003, Gordon Rugg, seorang periset computer, menunjukkan jika teks sama yang ada pada buku itu bisa dibikin dengan memakai Cardan Grille, satu alat enkripsi kode yang dibikin seputar 1550-an.

“Walau saya belum 100 % percaya dengan ketepatan prediksi waktu (yang diketemukan Hodgins serta timnya), menurut irit saya saatnya cukup dekati,” tutur Nick Pelling, penulis The Curse of the Voynich.

“Sayangnya, beberapa orang menjaga asumsi jika manuskrip itu dicatat pada era ke-16 atau serta era ke-17, khususnya teori ‘hoax’, yang mengakibatkan beberapa sejarawan mainstream menangguhkan kemauan mereka untuk terjebak,” tutur Pelling.

Kisah Tentang Buku The Baal Shem Tov in Heaven

Rabi Yechiel Michel dari Zlotchov salah satu murid paling besar Rabi Israel Baal Shem Tov, pendiri Chassidism. Sekian tahun sesudah Baal Shem Tov wafat, putra muda Rabi Yechiel Michel Yosef jadi sakit parah, serta keadaannya terus lebih buruk sampai ia ada di tingkat kematian.

Waktu itu, kabar sampai pada Rabi Michel jika penentang Baal Shem Tov merencanakan untuk membakar buku Chassidic Toldot Yaakov Yosef (“Generasi Yaakov Yosef”) di kota khusus. Buku ini, yang dicatat oleh murid besar yang lain dari Baal Shem Tov, Rabi Yaakov Yosef dari Polnoye, ialah buku pertama, serta di saat itu salah satu, yang berisi ajaran-ajaran Baal Shem Tov.

Rabi Yechiel Michel mengerti jika ini ialah usaha untuk mendesak pergerakan chassidic baru, serta jika kondisinya menekan. Ia putuskan untuk lakukan perjalanan ke kota itu serta berusaha untuk menahan penodaan yang mengerikan ini. Ia memberikan instruksi keluarganya jika (G-d larang) putranya wafat saat ia pergi, mereka harus tunda penguburan sampai ia kembali pada rumah.

Sudah Tidak Bernafas

Tidak lama sesudah ia pergi, Yosef masuk koma yang dalam. Ia nampaknya sudah stop bernapas, serta mereka menduga ia telah mati, tapi mereka tunda penguburannya sama yang diperintah. Tetapi, sesudah 3 hari, Yosef mulai berkeringat. Ia buka matanya serta bercerita cerita ini:

“Saat saya koma, saya berasa jiwa saya tinggalkan badan saya. Selekasnya, seorang malaikat tiba untuk bawa saya ke istana surgawi khusus. Sebab malaikat itu tidak dibolehkan masuk istana itu, saya masuk sendiri serta berdiri di dekat pintu.

Di, pengadilan surga sedang berjalan, serta saya lihat dua malaikat datang dengan satu buku yang berisi catatan semua dosa saya. Itu besar sekali serta berat hingga susah buat mereka bawa serta.

Saat saya lihat, malaikat lain tiba dengan satu buku tipis mengenai tindakan baik saya, tapi mereka berbeda dengan dosa, yang melewati mereka. Selanjutnya buku ke-3 dimasukkan, mengenai kesengsaraan saya, serta itu mengakibatkan banyak dosa saya dihapus.

Memberikan Hukuman

Akan tetapi, sebab dosa-dosa yang masih tetap ada, pengadilan putuskan untuk memberi hukuman saya mati sebab penyakit saya, serta mereka akan ucapkan hukuman serta menulis surat ketetapan itu.

“Di saat itu, ayahku — yang sudah lakukan pendakian jiwa untuk protes di depan pengadilan surgawi — tiba ke istana itu, masuk dengan kericuhan serta dengan keras merintih mengenai mereka yang ingin membakar buku dengan ajaran Baal Shem Tov. Ia dengan keras protes, menjelaskan, ‘Ini bisa menjadi chillul ha-Sem yang mengerikan (penodaan nama ilahi) bila dibakar. Itu tidak dibolehkan! ‘

Waktu itu, Rabi Yechiel Michel memerhatikan putranya berdiri di dekat pintu, serta mengatakan, “Yosef, kenapa kamu di sini? ” “Ayah, saya tidak paham, ” tuturnya. “Tetapi tolong bicara ke pengadilan atas nama saya.” “Saya pasti, ” jawab ayahnya. Selanjutnya Rabi Yechiel Michel terus protes pembakaran buku seperti awalnya, serta dengan penuh semangat meminta supaya buku itu tidak dibolehkan. Tapi pengadilan menjawab, “Permasalahan ini punya yurisdiksi yang semakin tinggi” —karena di surga ada pengadilan yang semakin tinggi serta semakin tinggi, satu di atas lainnya — pengadilan banding, mahkamah agung, dan lain-lain. Rabi Yechiel Michel selanjutnya pergi untuk ajukan banding ke pengadilan yang semakin tinggi, serta betul-betul lupa mengenai putranya Yosef.