Buku Voynich ,Salah Satu Buku Paling Misterius Di Dunia

Semasa beratus-ratus tahun, Manuskrip Voynich dipandang seperti buku paling mirakelus di dunia. Tidak seorang juga dapat pahami isi 240 halaman teks kabur yang dicatat dalam bahasa susah serta tidak diketahui, dibarengi dengan grafik serta contoh aneh.

Buku yang dicatat pada awal era ke-15 itu peluang dahulunya dipunyai oleh pakar kimia serta kaisar, sebelum tampil di masa kekinian pada awal era ke-20. Saat itu, penjual buku namanya Wilfrid Voynich memperolehnya di tahun 1912, serta tanpa ada menyengaja meminjamkan namanya pada buku mirakelus itu.

setidaknya telah seabad beberapa periset dibikin pusing oleh Manuskrip Voynich, satu manuskrip mirakelus berisi gambar serta tulisan yang maknanya sampai sekarang belum dapat dipecahkan. Belakangan ini beberapa periset Amerika sukses tentukan jika manuskrip itu dibikin pada era ke-15.

Proses penetapan usia manuskrip itu diawali tahun kemarin. Tetapi kejelasan masalah umur manuskrip baru dipublikasikan minggu ke-2 Februari kemarin. Manuskrip itu rupanya seratus tahun semakin tua dari perkiraaan sebelumnya, sekaligus juga mematahkan beberapa teori mengenai asal-mula manuskrip itu.

Nama manuskrip itu diambil dari nama penjual buku asal Polandia, Wilfrid Voynich, yang mendapatkan manuskrip itu pada 1912 di Villa Mondragone dekat Roma. Kesukaran buku dengan tebal 250 halaman itu membuat Da Vinci Kode tidak ada apa-apanya.

Buku itu dicatat tangan. Ada 250 ribu ciri-ciri asing didalamnya. Ciri-ciri-karakter itu diatur dalam kelompok-kelompok yang seperti kata serta kalimat; beberapa punyai keserupaan dengan huruf Latin serta angka Romawi, sesaat ciri-ciri yang lain tidak bisa diketemukan dalam bahasa mana saja di dunia.

Disamping itu, tulisan tangan yang memusingkan itu dikelilingi contoh-ilustrasi susah. Contohnya, tumbuhan yang tidak dapat dideteksi, lambang astrologi, aliran pipa yang ruwet, dan wanita telanjang yang sedang menari atau mandi dalam cairan hijau yang benar-benar aneh.

apa mereka organisme botanis? Atau organisme laut? Atau astrologi?

Memakai Tehnologi Hebat

Dengan memakai tehnologi hebat di laboratorium NSF-Arizona Accelerator Mass Spectrometry, Hodgins pecahkan minimal satu diantara beberapa puluh mirakel yang menyelebungi buku itu. Yaitu, tentukan waktu pengerjaan manuskrip.

Dia memakai tehnologi Carbon Dating serta memakai empat contoh memiliki ukuran seperenambelas inci yang diambil dari empat halaman tidak sama.

“Empat halaman itu menyengaja diambil dari empat sisi tidak sama untuk tentukan apa buku itu dicatat dalam periode waktu yang panjang,” tutur Hodgins pada Discovery News. Team Hodgins tentukan jika contoh itu dicatat di antara 1404 serta 1438 –jangka waktu yang terhitung singkat.

Baca Juga : 5 Buku Terlaris Sepanjang Sejarah

“Alam memihak pada kami. Selama era ke-15, level radio karbon beralih dengan sangat cepat, yang sangat mungkin kami mempersempit periode saatnya. Kadang level radio karbon atmosfir masih stabil semasa beberapa dasawarsa, serta semasa beberapa era. Serta dalam saat-saat itu, proses penanggalan radio karbon tidak sepas (yang kami kerjakan saat ini).”

Menurut beberapa periset, proses penetapan saat itu bisa dihandalkan sebab prosedurnya diulangi 4x dengan lembaran tidak sama.

Kesuksesan Hodgins Mematahkan Beberapa Tesis Mengenai Manuskrip Voynich.

Semenjak Wilfrid Voynich memberitahukan penemuannya, dengan keinginan pecahkan didalamnya, teori banyak muncul mengenai penulis serta isi buku itu. Banyak kriptografer karieronal atau amatir, termasuk juga pakar kode Perang Dunia I serta II, berupaya pecahkan mirakel isi manuskrip. Tidak satu juga sukses. Manuskrip itu masih jadi mirakel buat kriptografi.

pemilik buku itu adalah Raja Rudolf dari Dinasti Habsburg, Jerman, pada era ke-16, serta jika penulisnya ialah Roger Bacon, seorang pendeta Inggris yang periset pada era ke-13. Satu teori yang dipatahkan penemuan ini.

Pertaruhan yang lain, manuskrip ini ialah kitab rahasia dari satu sekte keagamaan, dokumen paling akhir dari satu bahasa yang telah musnah, code yang tidak bisa dipecahkan, sampai resep untuk “eliksir kehidupan“.

Tetapi ada pula pakar yang berasumsi jika manuskrip itu ialah satu gurauan konyol (hoax), yang peluang dibikin oleh seorang pakar matematika Inggris serta astrolog yang kerja untuk Raja Rudolf.

Pada 2003, Gordon Rugg, seorang periset computer, menunjukkan jika teks sama yang ada pada buku itu bisa dibikin dengan memakai Cardan Grille, satu alat enkripsi kode yang dibikin seputar 1550-an.

“Walau saya belum 100 % percaya dengan ketepatan prediksi waktu (yang diketemukan Hodgins serta timnya), menurut irit saya saatnya cukup dekati,” tutur Nick Pelling, penulis The Curse of the Voynich.

“Sayangnya, beberapa orang menjaga asumsi jika manuskrip itu dicatat pada era ke-16 atau serta era ke-17, khususnya teori ‘hoax’, yang mengakibatkan beberapa sejarawan mainstream menangguhkan kemauan mereka untuk terjebak,” tutur Pelling.

5 Buku Terlaris Sepanjang Sejarah

Buku adalah lambang ketidaksamaan level di antara satu manusia dengan manusia lainnya. Semua pertimbangan, mahakarya, riwayat serta asas budaya tersimpan di dalamnya. Buku dapat dimisalkan sebagai satu kotak penyimpan harta karun abadi, dan jembatan di antara waktu sebelumnya dengan generasi saat ini. Semakin kita dekat dengannya, tentu saja semakin kita tahu begitu luasnya dunia. Berikut buku-buku terbaik dari beberapa orang berkualitas yang sempat ada. Hingga untuk menghargai karyanya, buku-buku ini terjual sampai berpuluh-puluh juta di penjuru dunia. Buku apa yang telah kamu miliki?

Kelompok Buku Terlaris di Dunia

Quotations from Mao Tse-Tung

buku terlaris sepanjang sejarah

Buku ini sering disebut dengan ‘Buku Merah’ sebab warna sampulnya dan seringkali ditempatkan di saku atas jaket Mao Zedong. Quotations from Mao Tse-Tung terjual 830 juta eksemplar di penjuru dunia. Buku ini berisi mengenai antologi cuplikan yang diambil dari pidato serta tulisan-tulisan Mao Tse-Tung (Mao Zedong). Buku terlaris di dunia ini hampir diterjemahkan dalam semua bahasa serta mempunyai penebaran yang besar sekali seperti Amerika serta Beberapa negara Eropa, sebab dari buku inilah dapat memahami bahwa komunis ialah suatu hal yang harus dihindari serta buku ini adalah buku yang harus dibaca oleh tiap orang China dewasa di tahun 1966-1971.

A Tale of Two Cities

A Tale of Two Cities (1859) ialah novel classic terlaris dunia yang terjual lebih dari 200 juta eksemplar. Dapat disebut salah satunya masterpiece penulis tersohor Charles Dickens. Novel ini bercerita tentang cinta sepasang kekasih yang dibalut dengan deskripsi detail perjuangan Revolusi Perancis. Dengan membaca buku ini, kamu akan dibawa merasai perjuangan bersama-sama rakyat tertindas dalam menjatuhkan rezim tirani yang angkuh yang keji.\

Baca Juga : 7 Buku yang Punyai Impak Besar buat Beberapa Tokoh Dunia

The Lord of The Rings

The Lord of the Rings terjual sekitar 150 juta eksemplar. Buku terlaris di dunia ini ialah tipe novel fantasi karangan J.R.R Tolkien, seorang professor yang benar-benar pakar dalam sastra Inggris dari Oxford University. Buku ini dicatat dari tahun 1937 sampai 1949. The Lord of the Rings diedarkan dalam tiga jilid di tahun 1954 serta 1955, yang masing-masing jilidnya terbagi dalam dua buku. Jilid pertama dikasih judul “The Fellowship of the Ring “, jilid ke-2 “The Two Towers” serta jilid ke-3 “The Return of the King “.

The Hobbit

Masih sekitar karangan J.R.R Tolkien, The Hobbit adalah novel fantasi dengan jalan cerita seperti satu dongeng. Buku ini terjual sekitar 100 juta eksemplar serta diedarkan pertama-tama di Inggris pada 21 September 1937. The Hobbit dikenal juga oleh beberapa orang sebagai pendahulu “The Lord of the Ring” serta telah difilmkan di tahun 2012, 2013 serta 2014 oleh sutradara yang sama, Peter Jackson.

Dream of the Red Chamber

Hong Lou Meng atau Dream of the Red Chamber atau dalam Bahasa Indonesia diketahui dengan Mimpi menara Merah ialah karya paling besar dalam riwayat sastra classic Tiongkok. Serta ada yang menyebutkan buku terlaris di dunia ini untuk satu dari tiga pucuk budaya Tiongkok. Dream of the Red Chamber ditulis oleh Cao Xueqin di tahun 1754 waktu zaman Dinasti Qing sedang berkuasa. Sebab kepopulerannya buku ini sukses terjual kira-kira 100 juta eksemplar di penjuru dunia. Buku ini mengajari mengenai keutamaan belajar tata krama, belajar sikap, memburu cinta serta belajar mengerti makna solidaritas baik dengan keluarga, seseorang atau dengan rekan.

7 Buku yang Punyai Impak Besar buat Beberapa Tokoh Dunia

Saat seorang membaca buku yang pas di saat yang pas dalam kehidupan mereka, buku itu bisa memberi dampak yang dalam pada mereka. Sama dengan kita, beberapa tokoh populer dalam perincian ini sudah pilih satu buku yang pas untuk dibaca serta pada akhirnya mengganti hidup mereka.

Mereka, pada gilirannya, memengaruhi budaya terkenal, sains, serta tehnologi. Berikut 7 buku yang mengubah beberapa figur yang populer serta sukses di dunia.

1. The Little Prince (James Dean)

Semasa hidupnya, James Dean cuma membuat tiga film, dimana semua dipandang seperti film classic. Kilatan ketenarannya yang singkat masih cemerlang sampai saat ini, 65 tahun sesudah kematiannya sebab kecelakaan mobil pada 30 September 1955.

Seumur hidupnya Dean membaca banyak buku, dimana salah satunya buku favoritnya dia baca waktu ada di kursi sekolah menengah. Buku favoritnya ialah novel classic karya Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince. Dean benar-benar menyenangi buku sampai membawanya kemana sajakah dia geser.

Buku itu penting buat Dean hingga kawan dekat serta penulis biografinya, William Bast, menulisnya cuplikan favorite Dean dari buku itu dalam satu prasasti peringatan Dean di dekat tempat kecelakaannya. Merilis dari Destination Hollywood, cuplikan itu ialah: “What is essential is invisible to the eye.”

Nampaknya, cuplikan itu mempunyai arti yang dalam serta pribadi buat Dean, dimana dia seringkali membacanya khususnya dengan beberapa orang paling dekat serta yang dicintainya.

2. The Remains Of The Day (Jeff Bezos)

Amazon lahir di tahun 1995 saat pendirinya, Jeff Bezos, tinggalkan kerjanya untuk Wakil Presiden Wall Street serta geser ke Seattle untuk konsentrasi membentuk bisnis. Awalannya, Amazon cuma dipakai untuk tempat jual buku online, tetapi di masa datang bertumbuh jadi pasar paling besar di internet.

Bezos jelas bisa lihat nilai dalam satu buku. Jadi saat masuk ke bahasan ini, beberapa orang kemungkinan memikir jika buku yang mempengaruhinya tentu buku usaha. Tetapi bukannya buku mengenai usaha, rupanya buku yang mengubah Bezos ialah novel karangan Kazuo Ishiguro, Remains of the Day.

Bezos pribadi menjelaskan jika ia menyenangi buku itu sebab ia pikirkan plot didalamnya benar-benar prima. Ia tidak paham jika seorang betul-betul dapat menulis semacam itu.

Saat ia diberi pertanyaan apa ia lihat persamaan di antara Amazon serta buku itu, ia mengatakan, “Apa yang kita buat (Amazon) memang tidak biasa, tapi buku itu (Remains of the Day) ialah suatu hal yang mengagumkan.”

3. The Alchemist (Will Smith, Madonna, serta Pharrell Williams)

Kecuali jadi aktris dengan bayaran paling tinggi semasa tiga dasawarsa paling akhir, Will Smith, Madonna, serta Pharrell Williams rupanya share kesayangan yang dalam pada buku yang sama. Buku itu ialah novel The Alchemist karya Paulo Coelho.

Dalam satu interviu, Will Smith bicara dengan penuh semangat mengenai buku itu serta bagaimana ia ingin memperlihatkan pada beberapa orang jika hal yang tidak mungkin sekalinya dapat jadi kemungkinan bila kita ingin cobanya. Smith serta memandang dianya untuk seorang alkemis, tentu saja dengan cara metaforis.

Sedang untuk Pharrell Williams, ia menjelaskan dalam Oprah Winfrey Show jika buku itu ibarat Epifani untuknya. Buat Williams, sesudah membaca buku itu ia bisa lihat kembali lagi kehidupannya serta mengerti jika ia benar-benar mengucapkan terima kasih pada kesemua orang yang membantunya sampai titik pucuk dalam kehidupannya.

Oprah, yang menyukai The Alchemist, menjelaskan jika Madonna mengutarakan hal sama di tahun 1996, dimana Madonna menjelaskan jika buku itu sudah mengganti hidupnya.

Baca Juga : Review Buku Light and Fire of the Baal Shem Tov

4. Perfume: The Story Of A Murderer (Kurt Cobain)

Frontman dari Nirvana, Kurt Cobain, kemungkinan seringkali dikatakan sebagai “suara” dari generasinya. Buat banyak fansnya, Cobain dapat mengartikulasikan kekesalan serta kemarahan yang mereka rasakan. Nirvana sudah mengganti budaya Amerika serta kematiannya pada 20 April 1994 salah satu peristiwa paling tentukan pada riwayat musik rock.

Buku yang mempunyai impak paling besar pada Cobain ialah novel Jerman yang keluar di tahun 1985, Perfume: The Story of a Murderer karya Patrick Suskind. Menurut New York Times, buku ini sendiri dipuji sebab ceritanya yang sensoris serta melebihi beberapa batasan tabu dalam warga.

Jika dipikirkan, persamaan di antara narasi Perfume serta kehidupan Cobain cukup jelas, khususnya dibagian pada akhirnya yang tentu saja tidak diterangkan di sini. Cobain menjelaskan jika ia sudah membaca novel itu minimal 10 kali serta tetap bawa buku itu kemana sajakah.

Cerita dalam Perfume jadi fundamen untuk lagu “Scentless Apprentice” di album paling akhir Nirvana, In Utero.

5. Aeneid (Mark Zuckerberg)

Saat Mark Zuckerberg pertama-tama memberikan tambahan feature “senang” ke profile Facebook-nya, dia tempatkan buku Orson Scott Card, Ender’s Game, untuk buku favoritnya.

Selanjutnya, dalam satu interviu dengan The New Yorker, Zuckerberg mengklarifikasi jika buku sci-fi itu dia gemari, tapi bukan untuk buku favoritnya. Ia menjelaskan jika buku favoritnya ialah The Aeneid karya Virgil.

Zuckerberg menjelaskan jika ia pertama-tama membaca buku itu saat belajar bahasa Latin di sekolah menengah. Tentunya, ada kesamaan di antara Zuckerberg serta tokoh di buku itu, Aeneas. Dalam masalah ini, Zuckerberg mempunyai perjalanannya sendiri untuk membuat media sosial paling besar selama hidup.

Zuckerberg menjelaskan bila ada satu hal dari The Aeneid yang menempel dengannya, karenanya ialah dorongan Aeneas untuk ikuti nasibnya serta membuat satu kota yang “tidak mengenali batas waktu serta keagungan.”

Review Buku Light and Fire of the Baal Shem Tov

Ini ialah kehidupan seputar buku, dalam narasi, mengenai Rabi Israel Baal Shem Tov (1700-1760), pendiri Hasidisme. Baal Shem Tov, atau Besht, demikian ia biasa dipanggil, pimpin kebangunan rohani di Yudaisme yang tempatkan cinta serta keceriaan di pusat kehidupan religius serta perjuangkan kesalehan rakyat jelata pada pendirian beberapa rabi.

Guru Besar di Yahudi

Ia sudah disadari untuk salah satunya guru paling besar dalam riwayat Yahudi, serta beberapa dari apa yang hidup serta semangat dalam Yudaisme ini hari, di semua denominasi, datang dari idenya.

Abraham Joshua Heschel, yang disebut keturunan dari beberapa dinasti Hasidik yang termasyhur, menulis: “Baal Shem Tov bawa surga ke bumi. Ia serta murid-muridnya, Hasidim, menyingkirkan melankolis dari jiwa serta ungkap keceriaan yang tidak terlukiskan untuk seorang Yahudi.”

Review Dari Para Pembaca

“” Gabungan yang mengagumkan, memesona dari cerita-cerita dari Baal Shem Tov yang tangkap esensi serta Yiddishkeit dari chassidut. Satu buku yang mengagumkan untuk orangtua serta muda, buat mereka yang liberal atau mereka yang tradisionil. Gabungan Buxbaum membahagiakan untuk membaca sebelum tidur. untuk orang dewasa serta beberapa anak, dan sumber yang mengagumkan untuk beberapa sarjana serta rabi. “- Shamash, 22 Februari 2006” – Shamash

“” Satu buku tebal yang mengagumkan untuk orangtua serta muda, buat mereka yang liberal atau mereka yang tradisionil. Gabungan Buxbaum membahagiakan untuk membaca sebelum tidur untuk orang dewasa serta beberapa anak, dan sumber yang mengagumkan buat beberapa sarjana serta rabi. ” -Shamash Book of the Month, Juli 2006 “-

Biografi Tentang Baal Shem Tov

“‘Cahaya Yitzhak Buxbaum” Sinar serta Api Ba’al Shem Tov “ialah harta yang dikumpulkan dengan indah serta gampang dibuka bila cerita-kisah ini. Keunikannya terdapat pada usahanya untuk tempatkan dongeng, sebaik-baiknya, dalam posisi urutan serta menggambarkan buat kita biografi hebat bila Ba’al Shem Tov…. Karya bagus ini ramah pemakai dengan catatan akhir yang berguna, glosarium beberapa istilah Yahudi serta daftar pustaka untuk menolong studi selanjutnya. ‘Jew Chronicle, Rabbi Demant, 8 September 2006 “-

“” Buxbaum sudah memakai semua sumber hasid serta ilmiah, tetapi saya senang langkah ia bercerita cerita Besht ‘dari dalam.’ Ia menggerakkan nadi dari nilai-nilai yang ada di jantung pesan Baal Shem Tov serta mengemukakannya dalam beberapa kata yang bicara di hati generasi kita. ” – Rabi Arthur Green “-

Buku Yang Menginspirasi

“” Cerita-kisah Baal Shem Tov ini kembalikan kepercayaanku pada kemampuan cinta serta dedikasi yang simpel serta sepenuh hati. ” – Estelle Frankel, Tikkun “-

“” Buku Yitzhak Buxbaum ialah tulisan suci yang semestinya dicatat mengenai Baal Shem Tov dua ratus lima puluh tahun lalu, tapi tidak…. Tidak seorang juga yang ingin menarik dari mata air Hasidisme semestinya tanpa ada buku ini. Bila Anda tidak punyai cukup uang untuk membelinya, gadai sepatu Anda serta lari ke toko buku tanpa ada alas kaki. ” -Zalman Schachter-Salomi

Baca Juga : Kisah Tentang Buku The Baal Shem Tov in Heaven

“Buxbaum sudah menggerakkan nadi pada nilai-nilai yang terdapat di jantung pesan Baal Shem Tov serta mengemukakannya dalam beberapa kata yang bicara dengan hati generasi kita.” – Arthur Green

Banyak Pesan Yang Baik

“Wow! Apa pesta buat mereka yang menyenangi cerita-kisah Baal Shem Tov! Yitzhak ialah seorang pendongeng ulung, yang sudah mencurahkan waktu seumur hidup untuk penemuan cerita-kisah yang percepat hati serta mengilhami kita untuk hidup lebih banyak keceriaan, keheranan, serta kredibilitas suci. ” -Marcia Prager “Koleksi paling baik narasi Baal Shem Tov yang sempat disatukan dalam bahasa apa saja.” -Miles Krassen

“Membaca buku ini pasti mengusung, memberikan inspirasi, serta mengganti sudut pandang kekinian seorang secara paling radikal.” -Tirzah Firestone “- Blurb dari ulasaner

Kisah Tentang Buku The Baal Shem Tov in Heaven

Rabi Yechiel Michel dari Zlotchov salah satu murid paling besar Rabi Israel Baal Shem Tov, pendiri Chassidism. Sekian tahun sesudah Baal Shem Tov wafat, putra muda Rabi Yechiel Michel Yosef jadi sakit parah, serta keadaannya terus lebih buruk sampai ia ada di tingkat kematian.

Waktu itu, kabar sampai pada Rabi Michel jika penentang Baal Shem Tov merencanakan untuk membakar buku Chassidic Toldot Yaakov Yosef (“Generasi Yaakov Yosef”) di kota khusus. Buku ini, yang dicatat oleh murid besar yang lain dari Baal Shem Tov, Rabi Yaakov Yosef dari Polnoye, ialah buku pertama, serta di saat itu salah satu, yang berisi ajaran-ajaran Baal Shem Tov.

Rabi Yechiel Michel mengerti jika ini ialah usaha untuk mendesak pergerakan chassidic baru, serta jika kondisinya menekan. Ia putuskan untuk lakukan perjalanan ke kota itu serta berusaha untuk menahan penodaan yang mengerikan ini. Ia memberikan instruksi keluarganya jika (G-d larang) putranya wafat saat ia pergi, mereka harus tunda penguburan sampai ia kembali pada rumah.

Sudah Tidak Bernafas

Tidak lama sesudah ia pergi, Yosef masuk koma yang dalam. Ia nampaknya sudah stop bernapas, serta mereka menduga ia telah mati, tapi mereka tunda penguburannya sama yang diperintah. Tetapi, sesudah 3 hari, Yosef mulai berkeringat. Ia buka matanya serta bercerita cerita ini:

“Saat saya koma, saya berasa jiwa saya tinggalkan badan saya. Selekasnya, seorang malaikat tiba untuk bawa saya ke istana surgawi khusus. Sebab malaikat itu tidak dibolehkan masuk istana itu, saya masuk sendiri serta berdiri di dekat pintu.

Di, pengadilan surga sedang berjalan, serta saya lihat dua malaikat datang dengan satu buku yang berisi catatan semua dosa saya. Itu besar sekali serta berat hingga susah buat mereka bawa serta.

Saat saya lihat, malaikat lain tiba dengan satu buku tipis mengenai tindakan baik saya, tapi mereka berbeda dengan dosa, yang melewati mereka. Selanjutnya buku ke-3 dimasukkan, mengenai kesengsaraan saya, serta itu mengakibatkan banyak dosa saya dihapus.

Memberikan Hukuman

Akan tetapi, sebab dosa-dosa yang masih tetap ada, pengadilan putuskan untuk memberi hukuman saya mati sebab penyakit saya, serta mereka akan ucapkan hukuman serta menulis surat ketetapan itu.

“Di saat itu, ayahku — yang sudah lakukan pendakian jiwa untuk protes di depan pengadilan surgawi — tiba ke istana itu, masuk dengan kericuhan serta dengan keras merintih mengenai mereka yang ingin membakar buku dengan ajaran Baal Shem Tov. Ia dengan keras protes, menjelaskan, ‘Ini bisa menjadi chillul ha-Sem yang mengerikan (penodaan nama ilahi) bila dibakar. Itu tidak dibolehkan! ‘

Waktu itu, Rabi Yechiel Michel memerhatikan putranya berdiri di dekat pintu, serta mengatakan, “Yosef, kenapa kamu di sini? ” “Ayah, saya tidak paham, ” tuturnya. “Tetapi tolong bicara ke pengadilan atas nama saya.” “Saya pasti, ” jawab ayahnya. Selanjutnya Rabi Yechiel Michel terus protes pembakaran buku seperti awalnya, serta dengan penuh semangat meminta supaya buku itu tidak dibolehkan. Tapi pengadilan menjawab, “Permasalahan ini punya yurisdiksi yang semakin tinggi” —karena di surga ada pengadilan yang semakin tinggi serta semakin tinggi, satu di atas lainnya — pengadilan banding, mahkamah agung, dan lain-lain. Rabi Yechiel Michel selanjutnya pergi untuk ajukan banding ke pengadilan yang semakin tinggi, serta betul-betul lupa mengenai putranya Yosef.